Saturday, December 5, 2015

Orang Utan Mata Sendu


Mata yang Sendu.. seolah-olah ingin menangis

Itulah yang ada di benakku begitu melihatnya.
Entah apa yang ia pikirkan, aku sungguh tak tahu akan maksud maupun perasaannya.
Karena aku belum pernah berinteraksi langsung dengannya, terlebih di tempat hidup aslinya.
Aku hanya bisa melihatnya lewat gambar, foto, video, maupun ia yang hidup dalam suatu tempat yang dibatasi oleh besi/kayu disekelilingnya.
Bagaimana ya rasanya bersentuhan langsung dan bermain bersamanya?

Mata yang Sendu.. seolah-olah menginginkan sekaligus memancarkan kasih sayang dari lingkungan sekitarnya.

Yang menurut kebanyakan  orang saat ini sudah tidak bersahabat dengannya sehingga keberadaannya pun menjadi langka dan perlu untuk dilindungi.
Tempat hidup aslinya pun tak jarang bahkan telah diakusisi oleh makhluk sepertiku yang mempunyai sifat alami tidak pernah puas atas apa yang dimiliki sehingga terkadang suka kelewat batas dalam memanfaatkan apa yang tersedia / bisa diakses.
Apakah kamu baik-baik saja?

Terkadang terselip rasa iba terhadap si mata sendu.

Tapi mungkin mereka tak sesedih yang terlihat.
Entahlah, aku hanya bisa bertanya dan mengira-ngira.
Mungkin suatu saat aku mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dan bermain dengannya di tempat hidup aslinya yang belum terkurung oleh besi/kayu.
Melihatnya berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya pasti rasanya amazing.

Mata yang Sendu.. engkau layaknya manusia yang memiliki kecerdasan serta emosi yang beragam.

Kepolosan, ketulusan, keberanian, ketakutan, keserakahan, kesedihan, dan ketidakberdayaan.
Walaupun dunia ini selalu berubah, semoga kamu bisa tetap bertahan dan beradaptasi dengan caramu sendiri ya.
Kamulah satu-satunya warisan dunia yang sangat iconic dan sungguh beruntung kamu hadir di negeri tercinta ini.
Semoga suatu saat kita bisa bertemu dan bisa saling menjaga ya wahai kamu yang bermata sendu.



-Santi Rahmawati-
261115
Kupu Bistro
CS Bandung Writers' Club 9th Meeting

Ziarah

"Mi, kalau dipikir-pikir kita temenannya lama juga ya? Aku lupa sudah berapa tahun, tapi aku punya banyak ingatan spesifik tentang berbagai kejadian kualamin sama kamu.

"Inget nggak sih waktu kita berdua nonton Festival Film Prancis di BIP? Waktu itu dapetin tiketnya gampang karena peminat film Prancis di Bandung belum banyak. Kita nggak terlalu ngantri waktu ngambil dua tiket buat dua kali screening. Aku masih ingat cerita salah satunya, yang satu lagi lupa. Film pertama yang kita tonton tentang orang utan betina di sebuah kebun binatang di Prancis. Namanya Nénette. Badannya besar, rambut di kepalanya berponi. Kalau Nénette manusia mungkin dia seperti seorang ibu yang anak-anaknya sudah pada dewasa. Sepanjang film dia keliatan sedih, memandang jauh melampaui pemandangan di balik kaca kadangnya. Dia cuek saja sama para pengunjung yang mengajaknya bicara. Dia cuma mau gerak waktu pemberian makanan, atau waktu dikunjungi anaknya Tübo. Seingetku filmnya cuma gitu doang. Nggak heran di tengah film orang-orang mulai gelisah, lalu satu per satu keluar dari teater. Tapi, sama seperti Nénette, kita tetap duduk di tempat kita. Kamu bilang, kamu juga bakalan sedih seandainya dikurung di rumah kaca seumur hidup kamu.

"Kita juga pernah ke kebonbin, kan? Waktu itu kita berdua lagi sama-sama sedih meski sebabnya berbeda. Eh tahunya sepulang dari kebonbin kita malah tambah sedih. Kaki gajahnya dirantai, dan dia kelihatan kurus. Rasanya dobel sedih aja, hewan yang nature-nya besar dan gemuk kok malah kelihatan kurus begitu.

"Kamu nggak suka dijodoh-jodohin sama Darma. Kamu bilang secara fisik, Darma yang badannya bulet bukan tipe kamu banget. Padahal Darma baik, dia mau nganterin kamu ke mana-mana. Ke kampus. Ke rumah. Ke rumah sakit. Cuma dia yang kuat ketika kamu lebih sering ke rumah sakit daripada ke kampus. Kita bertiga pernah makan makan malam bareng-bareng, dan dia maksa buat mentraktir kita semua. Padahal yang dia suka kan cuma kamu. Kamu juga nggak tahu diri ya, pesan macam-macam tapi nggak dihabisin. Alhasil malam itu aku dan Darma pulang dengan perut yang makin buncit. Ya makin jauhlah dia dari tipe fisik ideal cowok yang kamu suka. Kamu sengaja ya?


"Dan inget nggak, Mi? Sambil nunggu pemutaran film kedua, kita ke depan BIP buat beli syal. Dulu di sana orang masih boleh jualan. Waktu itu hujan. Hari sudah gelap. Pedagang kaki lima pakai lampu neon kuning buat menerangi dagangannya. Aku bingung antara syal putih atau oranye. Kamu bilang oranye. Tapi waktu kita masuk lagi ke mall, aku sadar bahwa di bawah sinar lampu normal syal itu sebenarnya berwarna pink! Kamu ngakak, lalu bilang yang 'normal' itu sebenarnya lampu yang di luar. Kita lalu menukar lagi syalnya dengan yang warna putih. Syalnya masih kusimpan, walau sekarang warnanya sudah kekuningan.


"Kamu paling seneng ngejekin aku. Bilang bahwa aku suka cowok bertubuh bulat. Waktu ke kebonbin, tiap ngeliat beruang, orang utan, ataupun babi, muncratlah dari mulutmu satu per satu nama orang dari masa laluku. Apaan sih? Nggak selalu gitu tahu. Haris kan kurus ... Tapi sayang kalian nggak sempat ketemu ... Nggak enaknya adalah tiap kali  meluk dia, aku merasa seperti meluk karpet yang digulung.

"Yang betul itu, secara fisik aku suka orang berdasarkan tatapan mata dan senyum yang terbuka. Coba deh dari atas sana kamu lihat mata orang utan? Keliatan, nggak? Sudah? Matanya seolah nggak menyimpan rahasia, kan?"


-Andika Budiman-
261115
Kupu Bistro
CS Bandung Writers' Club 9th Meeting

Boneka, Kita?

Hari ini aku pingin tidur. Seharian! Capek rasanya berkegiatan selama seminggu tanpa hal yang membuatku ingin. Bosan. Tapi mengingat wajah bosku yang bakal pasang muka asem kalo aku bolos membuatku mau gak mau turun dari kasur ke lantai dan melangkah jauh lebih lemes dan kaku dari zombie yang baru bangkit dari kubur. Huh, gini nih nasib kalo jadi karyawan!
Salah satu teman saya mengajak saya untuk keluar hari ini. Katanya dia akan mentraktir saya makan sembari mengenalkan saya pada pacar barunya. Sebenarnya saya enggan tapi mau bagaimana lagi, rezeki kan tak boleh ditolak. Walaupun sebenarnya berleha-leha di rumah tentu lebih asyik sambil mendengarkan lagu dari penyanyi favorit saya dengan pintu dan jendela balkon yang terbuka lebar. Merasakan hembusan angin sepoi tentu lebih nikmat daripada berpanas-panasan di hari libur seperti ini. Dan saya tetap saja keluar rumah demi kebahagiaan teman!
Anjriit.. Kenapa kesini? Waduh ni tempat busuk banget dah! Gini nih kalo travelling bareng sama orang yang doyannya liburan ala selebritis kayak mereka. Tau gini gue solo travelling aja deh timbang nyasar ke mall dengan carrier di punggung yang tentu gak matching di tempat kayak begini. Naas banget hidup gue yang mempercayakan liburan kali ini sama rombongan travel macam gini. Oh Tuhan, keluarin aku dari sini secepatnya pleaseee!!
Astagfirullah… Jam berapa ini? Aduh kalo Ummi tau ane masih belom berangkat ke mesjid jam segini, pasti udah ngomel tujuh turunan. Belom lagi kalo di tambah dengan laporan sama Abi. Ah, tapi Ummi kan jauh di kampung, gak bakal tau ini kan? Tapi kok tegangnya masih sama kaya kalo dipelototin sama Beliau ya? Sip deh Ummi tenang aja, ane masih inget sama Tuhan kok biar Ummi jauh disana. Sarung mana sarung?
“Hai cantik, seksi banget deh kamu.” Andi sudah siap menjemputku di depan rumah dengan mobil ayahnya. “Tadinya aku mau pake celana jeans dan cardigan soalnya malem ini dingin banget deh!” sahutku sambil menggosok punggung tanganku. Sambil menarik tanganku ke pintu mobilnya Dia berkata, “Aduh kamu kayak nenek-nenek Sayang kalo pake cardigan!”. Hmm.. Dia memang gak suka liat aku dengan cardigan favoritku. Cardigan pemberian dari Ayah di hari Natal dua tahun yang lalu. Cardigan itu cantik berwarha hijau tosca ditambah ornamen bunga-bunga lili kecil di bagian leher dan pergelangan tangannya. Ayah bilang aku manis sekali dengan cardigan itu dibandingkan dengan pakaianku malam ini, celana hotpants dan kemeja putih gombrang berbahan katun tipis. “Tenang saja kalo kamu kedinginan nanti aku yang bakal angetin kamu Sayang” bisiknya sambil membelai pahaku.
Manusia itu makhluk sosial. Saking sosialnya mereka sangat peduli apa yang orang bilang tentang mereka. Mau begini dan begitu masih saja berfikir tentang pendapat orang lain. Syukur kalo emang beneran mikir, tapi kalo ternyata begini begitu karena demi orang lain? Kayak boneka!
Boneka itu jelas benda mati. Mau di mainin tiap hari atau seminggu sekali, dipajang, disimpan atau dilempar ya terserah sama yang punya. Karena mereka kan benda mati, gak bisa bergerak sendiri. Bedanya sama kita?  Kita ini jelas hidup, punya perasaan, berakal dan bisa berpikir. Lalu kenapa kita harus selalu denger dan peduli kata orang jika kita sudah tahu mana yang benar atau salah? Kenapa kita selalu mau mengerjakan sesuatu agar sesuai dengan ekspetasi dan harapan orang tanpa perduli sama rasa nyaman untuk diri kita sendiri? Coba, berapa kali kita melakukan sesuatu yang murni kita lakukan karena kita mau bukan karena kita harus? Kita ini bisa jadi boneka hidup. Jiwa ini empunya, fisik ini ya bonekanya. Cerita apa yang mau kamu mainkan hari ini, ya tinggal kamu sendiri yang bikin alur ceritanya. Bukan dia atau mereka.

-artahartasemesta-
221015
Cabe Garam
CS Bandung Writers' Club 4th Meeting

Gelembung Sabun

Itulah aku
Indah bulat mengkilap
Melayang terbang kemana angin membawa
Menciptakan kegembiraan
Penuh tawa riuh suaranya
Hanya seketika
Lalu lenyap menghilang
Setelah meletup dan menyisakan wanginya di udara
Dan kegembiraan masih akan berlanjut
Dengan atau tanpa aku

-artahartasemesta-
151015
Coffindo
CS Bandung Writers' Club 3rd Meeting

Krisis Lingkungan di Indonesia

Apa sih artinya krisis? Hal yang pertama kali terpikirkan di kepala adalah sesuatu yang bikin hati sama perasaan deg-degan dan gak nyaman. Hal yang bisa saja terjadi di segala lini kehidupan dari sosial, lingkungan, pribadi bahkan yang paling berasa kalau sudah menyangkut soal ekonomi dan keuangan. Ah sepertinya terlalu basi untuk membahas yang namanya krisis lingkungan di Indonesia apalagi ngebahas soal kebakaran hutan dan asap di negeri kita ini. Maaf bukannya gak peduli sama keadaan saudara dan keluarga kita di sana tapi untuk taraf rakyat kayak saya sih bukan levelnya untuk mengkritisi. “Yaa da aku mah apa atuh?” kalo mengutip celotehan anak jaman sekarang.
Ngomongin soal lingkungan buat saya bukan cuma sekedar ngomongin alam yang warnanya akan didominasi oleh warna hijau dan biru saja. Lingkungan itu menurut saya ya kita ini; kita, mereka, dia, aku dan kamu. iya kamu! Dan dengan kesadaran penuh saya bilang kalo kita memang sedang mengalami krisis lingkungan. Yang menurut saya adalah kita ini mengelami krisis dengan lingkungan sekitar kita, krisis hubungan antar sesama manusia.
Saat ini adalah saat dimana manusia satu dengan manusia lain akan bertemu dengan segala keterbatasan. Keterbatasan akan Sinyal, pulsa, daya batrai bahkan merk gadgetnya. Dan parahnya kita masih merasa cukup dan berbahagia dengan itu semua. Sebuah batasan kebahagiaan yang berhenti pada titik cukup untuk saling berbalas pesan singkat, bertukar cerita lewat suara ataupun gambar. Ya jika memang jarak wilayah yang tergolong cukup jauh memang bisa dimaklumi. Tapi nyatanya kehidupan masa kini memang sudah sangat berjarak walaupun keberadaannya dekat. Bahkan ketika sudah bersebelahan! Musnah sudah makna bersentuhan dan bertatap muka, saling memandang secara langsung. Dengan mengetahui kabar kawan dan saudara melalui celotehan atau foto terbaru saja, kita cukup berbahagia. Apa sesederhana itu makna kebahagiaan yang sesungguhnya? 
Belum selesai dengan jarak yang tak dapat terjangkau dengan tangan, lalu bermunculan berbagai istilah yang menambah panjang jarak tersebut. Ketika kita ingin berbaik hati menjadi peduli dengan situasi dan kondisi yang menimpa seseorang, maka istilah Kepo akan melayang menampar pipi kita. Lalu ketika kita meluapkan semangat kita secara berapi-api dan menjadi sedikit perfeksionis terhadap hal-hal detail yang menjadi perhatian dan minat kita, maka istilah Rempong menjambak kita dengan keras. Belum lagi kalau tiba-tiba kita memberikan sedikit sentuhan romantis, melankolis dan penuh perasaan dalam berpendapat, istilah Galau atau Curcol akan mencincang kita secara brutal. Lalu semua istilah itu akan keluar dari mulut seseorang disertai senyum sinis bahkan bisa menjadi bahan tertawaan. Ah!
Dan satu lagi istilah terbaru, Baper! Entah kenapa sejak pertama kali saya mendengar istilah tersebut rasanya gak nyaman dan terlalu kasar untuk diuangkapkan. Di saat kita meiliki sebuah ide yang kemudian ditimpali secara urakan yang akhirnya membuat kita sedih, tersinggung bahkan marah, orang tinggal bilang “Ah kamu Baper sih anaknya!”. Kemudian segalanya akan berhenti disitu. Gak bisa komentar lagi atau sekedar membela diri karena gengsi. Padahal apa salahnya sih Baper? Memangnya salah jika melibatkan perasaan untuk hal-hal yang terjadi di sekitar atau di lingkungan kita? Astaga, mungkin benar ternyata kita sedang dilanda krisis lingkungan di saat orang-orang sudah mulai malas melibatkan perasaan, mulai gak pake perasaan atau mulai meremehkan perasaan orang lain. Ini baru namanya krisis!!
-artahartasemesta-
081015
Coffindo
CS Bandung Writers' Club 2nd Meeting

Orangutan di Ibu Kota

Aku adalah seorang pria yang terjebak di hirup pikuk kota Jakarta,
Dimana kita di tuntut untuk mempunyai pekerjaan dan tidak punya
pilihan untuk menghirup aroma - aroma khas di jalanan.

aku juga harus menghadapi orang-orang bertopeng, berdasi dan yang mampu
mengeluarkan pisau dari sakunya.

Bertahun-tahun terjebak dengan rutinitas yang sama di kota Jakarta.
Kota Jakarta.

Kota...

Aku rindu masa kecilku yang riang juga gemar bergelantungan di pohon
mangga belakang rumah nenekku dan menjuluki diriku sendiri "Orang
Utan"

-I. Bilhaqy-
261115
Kupu Bistro
CS Bandung Writers' Club 9th Meeting

Orangutan

Halo. Aku orangutan.

Kamu pernah mencintaiku, lho. Kamu menunggu-nungguku pukul empat sore sambil membayangkan dunia imajinasi yang menyenangkan. Saking sayangnya padaku, kamu meremasku sekuat tenaga. Mungkin gemas. Mungkin tidak sabaran. Tidak seperti sebagian kawanmu yang merawatku baik-baik dalam kamar berharganya.

Tapi aku cinta kamu, kok. Meski hanya dua puluh menit. Aku ingat saat itu aku digenggam olehmu menyusuri jalanan komplek yang sepi. Lalu kau berlari membawaku sepanjang pematang sawah. Melompati selokan. Melompati sungai. Melompati jembatan.

Menit ketiga belas kamu bilang kamu bingung, mah gulali kapas atau bp-bp-an. Aku tidak tahu mana yang harus kusarankan. Kamu menghabiskan waktu meminta saran kawanmu juga. Pada akhirnya, kamu mau gulali kapas saja. Dan kamu meninggalkanku bersama anak baru.

Tidak apa-apa. Toh aku akhirnya ketemu anak manis lain seperti kamu. Anak yang ini mulai menceritakanku bahwa di pepohonan, selain aku, mungkin ada kuntilanak. Aku tertawa dan merasa lucu. Karena seumur hidup, aku tidak pernah ketemu kuntilanak di atas pohon.

Tidak apa-apa. Aku suka imajinasimu sebagai anak-anak. Meski tentang kuntilanak. Namun sayang ya, hari ini tidak ada anak-anak yang menungguku lagi, seperti kamu.

Bahkan kamu tidak pernah menungguku lagi. Hari ini, setidaknya, Sultan Mahmud Badarudin yang ditunggu-tunggu. Aku, orangutan, mulai dilupakan. Apalagi sejak koin perak itu sukses menggantikanku.

Tidak apa-apa. Aku paham. Setidaknya aku pernah menghiasi sejarahmu. Membuatmu berdebar-debar memilih mainan yang ingin kaudapatkan. Setidaknya aku pernah membantumu memiliki gulali kapas.

Sampai jumpa, dari aku orangutan yang duduk di atas pohon.

-Moemoe Rizal-
261115
Kupu Bistro
CS Bandung Writers' Club 9th Meeting

Orangutan

 Di sebuah hutan yang terletak tidak jauh dari sebuah pantai, terdapat segerombolan orangutan. Mereka merupakan sekumpulan keluarga besar orangutan yang berkuasa di hutan tersebut. Orangutan tersebut hidup dengan tentram dengan cara bergotong royong dan saling membantu satu sama lainnya. Setiap pagi, orangutan jantan yang dewasa pergi kedalam hutan untuk mengumpulkan makanan, kayu, dan air untuk memenuhi kebutuhan gerombolan selama sehari maupun dua. Orang hutan betina dewasa akan menjaga rumah dan membangun tempat tinggal yang nyaman untuk mereka berteduh dan juga merawat anak-anak mereka yang balita. Untuk orangutan yang belum cukup dewasa diberikan kebebasan untuk menjelajahi hutan tersebut dan kembali sebelum matahari terbenam.

   Pada suatu hari, seekor anak orangutan mengajak neneknya untuk berjalan di bibir pantai untuk menikmati udara yang berhembus kencang. Mereka melewati beberapa pohon besar yang mengharuskan mereka untuk berayun dan melompat. Lalu tidak lama kemudian sampailah mereka pada bibir pantai yang memiliki pasir yang sangat halus dan putih.

   Karena perjalanan yang memerlukan usaha yang cukup besar, anak orangutan ini merasa haus dan sangat tergiur melihat air pantai. Akan tetapi dikarenakan air pantai yang asin ia pun tidak dapat meminumnya. Nenekpun berkata, “kamu lihat pohon kelapa tersebut yang melengkung?”. Anak itu pun melihatnya dan berkata “waaah!! Kelapanya banyak sekali! Ayok kita ambil”. Tidak lama kemudian mereka memanjat pohon tersebut dan menikmati air kelapa yang begitu segar.

   Setelah meminum air kelapa tersebut, nenek orangutan mengabil sebuah kayu yang kuat dan panjang kemudian menusukkannya ke dalam pasir pantai disamping pohon kelapa yang melengkung tersebut untuk meluruskan pohon itu. Anak pun berkata “untuk apa nek diluruskan?”. Nenek menjawab “nak, pohon ini masih muda dan hidupnya masih panjang. Kasihan jika ia hidup melengkung untuk waktu yang cukup lama”. Anak itu pun kemudian mencari pohon yang melengkung lainnya. Tidak jauh dari temat mereka berdiri, terdapat pohon kelapa yang besar dan melengkung. Anak pun berkata “nek, itu ada pohon yang besar dan melengkung didepan sana. Ayo kita luruskan nek”. Nenek tersenyum dan menjawab dengan tenang “nak, lihat baik-baik pohon itu, besar, kokoh dan sudah tua seperti nenek. Sudah tidak bisa diluruskan lagi. Jika kita paksa maka dia akan patah.” Anak itu pun merasa kasihan terhadap pohon itu dan menundukkan kepalanya. Nenek mengelus kepala anak tersebut dan berkata “nah kamu sudah lihat sendiri kan perbedaannya. Kamu masih muda, masih memiliki umur yang panjang dan jika kamu berbuat kesalahan ditengah jalan, kamu masih bisa memperbaikinya”. Anak itupun memeluk neneknya dan berkata “aku akan tumbuh besar dan kuat nanti. Jika suatu saat nanti aku melengkung, tolong luruskan aku yang nek”. 



-Aziz Amri-
261115
Jakarta

Voted as Second Favorite Story of The Night

Stone

What is a stone? To me a stone is an element that stays still and won’t move until they got a push from something. It all depends on how hard someone pushes it. Too soft, it won’t move, too hard, it could break. But everyone knows that a stone is just a stone, it cant do much.

I don’t know, in life why are there so many people that choose to be a stone instead of some other elements. They act as if they have no capability to move by themselves. They wait for some miracle to come and give them strength to reach another level. In spite of that, they also choose to be blind and let the wrong be right, the suffer gets even more suffering, the good to be bad, and the hate be hatred. A stone is something that plays safe by letting things happen in front of it all for avoiding bad things to happen to them and to let them be clean out of any problems that they or someone else’s are facing. They always think that they are weak because they are born to be like is. But do you know something? The problem is not because how you were born to be, but its how you would face the fact you are born as is and use the beautiful gift you have.

Life is wonderful because we could choose our own path where, what, and how we want it to be. For me, being a stone is such a waste of a precious life. We humans are all the same. A boy dreamed to be a man, a man dreamed step on the moon, and look at him. He made it! All I want to say is stop being a stone and try to be the one who moves it. Because by being a stone is just something that you will regret in end.


-Aziz Amri-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting

Solo Trip

Semua teman bertanya kepadaku "Kenapa Batu?"


Aku sendiri tidak tahu kenapa memilih Batu dari sekian banyak tempat yang bisa aku datangi untuk solo trip pertama di hidupku. Yang ku tahu pasti hanya satu, cuacanya sejuk. Nggak kebayang kotanya seperti apa.



"Kamu harus nyoba solo trip, seenggaknya sekali dalam seumur hidup!" Begitu usul sahabatku.



Akhirnya kuatur jadwal libur beberapa hari untuk pergi kesana. Browsing sana-sini untuk menentukan destinasi, tempat menginap, dan perjalanan dengan kereta kulakukan seminggu sebelum berangkat.



Batu berada tidak jauh dari kota Malang, keduanya sama-sama memiliki tatanan kota seperti tempat tinggalku di Bandung. Jalan-jalan utamanya, cuacanya, bahkan angkutan umumnya memiliki pola 7-5.



Yang ternyata meleset dari bayanganku adalah Batu adalah kota dengan banyak destinasi wisata.. untuk keluarga. Ada batu night spectaculer, wahana bermain yg buka hanya dari sore hingga malam. Keramaian dan kerlap-kerlip lampunya hampir seperti pasar malam di film-film barat.



Ada batu secret zoo yang merupakan gabungan dari kebun binatang serta wahana bermain dan belajar. Ini adalah tempat wisata terbesar di Batu, terdiri dari 2 tempat yg bisa didatangi secara terpisah.



Ada pula museum angkut. Nama yg sederhana untuk tempat wisata yg menyajikan koleksi kendaraan yg tidak sederhana. Ya, namanya terlalu sederhana untuk pengalaman yg bisa aku dapat. Tempat ini seperti USSnya Indonesia minus wahana bermain yg memacu adrenalin.



Batu sebagai destinasi solo trip pertamaku cukup memuaskan. Sepertinya akan ada solo-solo trip ku berikutnya.

-Indah-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting

BATU

B: Bahagia itu sederhana. Itulah yang sering terucap atau tertulis di status media sosial orang-orang

lengkap dengan foto atau kegiatan yang dapat membuat mereka bahagia dalam sekejap dan dengan

cara yang simple. Contoh Bahagia itu ketika bisa menemukan barang berharga yang telah hilang dan

tiba-tiba secara misterius bisa ditemukan lagi. Atau bahagia itu sederhana yaitu ketika bisa

mendengarkan musik yang kita suka sambil menyanyikannya tanpa ada orang yang protes akan suara

*merdu* kita. Ya, setiap orang mempunyai definisi bahagia yang berbeda-beda dan memang seringkali

terselip dalam hal yang kecil lagi sederhana.

A: Apapun halnya yang bisa bikin kita happy, enjoy sah-sah saja untuk dilakukan selama tidak menyakiti

diri sendiri maupun orang lain. Percayalah bahwa ketika kita mau membuka mata, telinga dan hati untuk

membiarakan energi positif mengaliri tubuh walaupun di awal ada rasa malu dan takut yang mengiringi

maka dia akan menjadi hal yang membawa kita ke suatu tempat yang kadang tidak pernah kita duga

sebelumnya. Tidak perlu menghilangkan rasa takut dan malu dalam diri, toh bukankan rasa takut dan

malu itu salah satu tanda bahwa kita belum gila hehe.

T: Tergantung dari bagaimana kita menyikapi suatu hal itu memegang peranan yang penting banget.

Karena apa? Karena semua objek yang ada di dunia ini bersifat netral sampai ada kita yang memberi

makna terhadap objek tersebut. Misal, objeknya adalah pensil. Pensil di tangan seorang pelukis akan

digunakan untuk menggambar sketch dari karya seni yang akan diciptakannya. Namun pensil di tangan

perempuan bisa dijadikan tusuk konde untuk menggulung rambutnya. Beda lagi jika pensil tergeletak di

depan sang kucing mungkin hanya akan ditoel-toel dimainkan saja hehe. Semuanya relatif, relatif dari

sudut pandang mana yang kita lihat atau yakini. Bukankah kita sebagai manusia bebas-bebas saja dalam

menentukan pilihan.

U: Untuk itu tetaplah menjadi diri kita sendiri, walaupun terkadang kita juga masih belum terlalu

memahami diri sendiri seutuhnya karena sejatinya kita manusia adalah makhluk yang lemah yang tidak

pernah lepas dari kebutuhan akan pertolongan dari Tuhan dan orang lain.

-Santi Rahmawati-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting

Si Punggung yang Misterius

Hemm.. Yang terlintas di benak saya ketika mendengar kata punggung adalah tak terlihat. Iya tak

terlihat, karena menurut saya pribadi kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri seutuhnya. Kita dapat

melihatnya secara utuh dengan bantuan media lain, entah itu kaca, atau melalui mata orang lain.

Sehingga punggung ini merupakan anggota badan yang agak “misterius”. Kenapa misterius? Karena ada

beberapa hal sih, lebih tepatnya dua dulu deh yang kayaknya kalau ditilik-tilik lagi ya mungkin bisa jadi

iya. Nah, saya coba paparkan ya kenapa akhirnya si punggung itu misterius.

Pertama, karena kehadiran punggung itu sangat penting namun seringkali tidak kita sadari. Contohnya

saja saat ini baru kepikiran tentang si punggung setelah dapat tema untuk menulis. Padahal kan

punggung itu bagian yang menopang tubuh kita melalui tulang belakang yang ada didalamnya. Makanya

si punggung itu sebenarnya sama pentingnya dengan tulang belakang, namun sayangnya kita sering

melupakan jasa bahkan kehadirannya. Malah seringkali kita sadar kehadiran si punggung itu kalau udah

berasa sakit. Nih misalnya kita lagi sakit punggung karena lelah beraktivitas, atau punggung kita sakit

gatal yang membuat kita jadi garuk-garuk punggung. Nah, misterius kan ya si punggung itu apalagi

mengingat eksistensinya yang hampir tak terlintas di benak kita, kecuali pas kalau lagi adatrouble aja.

Kedua, punggung itu misterius karena dia adalah bagian tubuh yang jarang terlihat secara langsung jika

sehari-hari kita beraktivitas, beda halnya dengan si tangan, kaki, muka, dan beberapa anggota lain yang

terlihat di wajah. Menurut saya, walaupun punggung tak terekspos secara langsung, ia dapat

menggambarkan bagaimana keadaan seseorang secara tidak langsung. Misalnya punggung yang agak

bongkok mungkin bisa jadi orang tersebut agak minder, entah itu karena alasan fisik maupun non-fisik.

Eh tapi bisa juga deng punggung yang bongkok itu gegara emang sikap duduk atau berdiri yang kurang

baik, malas dan telah menjadi terbiasa (saya juga agak bongkok sih hehe). Atau bisa jadi punggungnya

bongkok karena pernah mengalami kecelakan, seperti yang dialami oleh instruktur kursus mengemudi

Saya. Tapi beliau bisa teap beraktivitas normal kok, hebat ya si punggung itu walaupun ada kelainan

terhadapnya tetap saja dia salah satu hero dari tubuh ini. Nah lain halnya dengan punggung yang tegak

apalagi dengan dada yang membusung, biasanya sih menandakan kalau orang tersebut orang yang

percaya diri dan bangga akan dirinya. Yah, terlepas dari kondisi punggung orang tersebut, Intinya mah

ada ‘sesuatu’ yang telah terjadi dalam hidup seseorang itu, baik disadari atau tidak tapi terpancar lewat

sang punggung.

Nampaknya sekian dulu u

ntuk tulisan mengenai si punggung yang misterius. Ingat bahwa misterius itu bukan berarti suatu hal

yang mengandung aura mistis atau negatif, tapi bisa juga jadi misterius karena kehadirannya atau

kebermanfaatannya yang penting namun terkadang bahkan telupakan. Terkadang perlu momen

tertentu agar kemisteriusannya itu bisa terangkat dan disadari perannya. Persis kayak si punggung itu.

-Santi Rahmawati-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Ini Bukan Spam

Halo.

Siang tadi, waktu sedang mencari sebuah buku yang akan diterbitkan kembali di gudang, aku tidak sengaja menemukan namamu. Namamu tertera di halaman copyright buku panduan perjalanan di Bandung sebagai desainer sampul.

Kamu menggunakan foto beberapa tempat wisata di Bandung: Gedung Sate, Gedung Merdeka, Jalan Cihampelas, dan Jalan Braga, lalu menambahkan judul Jalan-Jalan Hemat @ Bandung. Menurutku sampulnya cukup efektif. Hanya aku menyayangkan sampul itu tidak memunculkan kesan yang dapat kukaitkan dengan kesanku kepadamu. Tidak ada selera humor, maupun kesabaran bola matamu yang mendengarkan ceritaku sampai selesai.

Aku kembali ke mejaku dengan namamu, buku yang kucari, dan dada yang lebih berat. Aku sudah tidak bisa lagi memutar suaramu, hanya ingat mata yang biru, dan kepala yang berkilau ketika kamu duduk persis di bawah lampu. Aku lantas mengetik namamu di mesin pencarian. Aku segera tahu pekerjaan dan  kota di mana sekarang kamu tinggal. Sesungguhnya tidak jauh, tapi aku merasa jarak di antara kita sudah tak lagi bisa ditempuh.

Ketika pulang, aku ingat lagi foto ilustrasi sampul buku Jalan-Jalan Hemat @ Bandung. Meskipun foto-foto itu berkualitas baik, tetap saja foto tidak menangkap segenap kenangan yang pernah dialami orang di dalamnya. Aku ingat kita pernah berjalan dengan bergegas di sekitar Gedung Merdeka. Kita datang terlambat ke sebuah janji makan malam dengan teman-teman. Kamu berjalan sangat cepat. Aku memprotes dan kamu memintaku jalan lebih cepat. Aku mengingatkan bahwa seharian aku bekerja sambil berdiri dan berjalan kaki. Kamu pun melambatkan langkahmu, tapi masih cukup cepat. Akhirnya aku berjalan di depanmu. Saat itu langkahku seperti melayang di udara, karena merasa diikuti olehmu.

Sekarang aku belum bisa tidur. Aku berpikir seandainya saja waktu itu aku melangkah beriringan denganmu. Rupanya ketika dulu aku berjalan di depan, langkahku semakin cepat dan aku tidak menoleh ke belakang. Sampai tahu-tahu kamu sudah tidak ada lagi. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih maupun salam perpisahan.

Akhirnya, di depan layar berpendar di sebuah kamar gelap aku mulai menulis, "Halo. Ini bukan spam. Aku mau minta maaf karena dulu ...."

-Andika Budiman-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting

Open

Open.

Itu yang tertera di atas suratnya. Seolah kertas kado cantik itu belum cukup

mengundang siapa pun untuk membuka kotak yang terlindung di dalamnya. Aku membolak-

balik bingkisan mungil itu, mencari petunjuk. Sesuatu yang jelas sia-sia, karena pembungkus

kado di mana pun tak akan meninggalkan ruang untuk diintip.

Ketika aku kembali ke atas tempat tidur, menghempaskan tubuh dengan nyaman di atas

bantal-bantal, kubuka kado kecil itu. Kurobek saja, kubiarkan kertasnya berserakan di atas

lantai. Aku bukan Arvino yang akan membuka kadonya hati-hati, berencana menggunakannya

lagi suatu saat di masa depan. Jadi dalam lima detik, kutemukan kado itu bercangkangkan

kotak kardus kecil berwarna cokelat.

Mungkin isinya cincin lamaran. Mungkin isinya kunci mobil Mercedes Benz yang

kuidam-idamkan. Mungkin isinya gunting kuku. Apa pun dapat bersembunyi di balik kotak

sebesar 5 x 5 cm ini.

Namun begitu kubuka tutupnya, aku hanya menemukan secarik kertas yang digulung.

Warna kertasnya putih biasa, tampak disobek dari HVS 70 gram yang baru diambil dari

kawanan rimnya. Di dalamnya tidak ada surat cinta, maupun puisi-puisi romansa. Hanya satu

kata saja. Dengan tulisan ceker balado.

“Maaf.”

Aku menyunggingkan senyum sebelah dan memutuskan untuk melupakannya.

Esok paginya, aku mendapat kado yang lain. Kali ini bentuknya digital. Notifikasi

kehadirannya berkerlap-kerlip di ponselku, mencari perhatian. Aku menemukannya tepat ketika

aku terbangun dari tidur. Ada kiriman media Whatsapp yang di tengah gambarnya terpampang

segitiga mengarah ke kanan. Ini kiriman video. Dari Arvino. Pesan pengiring kiriman media itu

hanya satu kata: Open.

Jadi, aku mainkan videonya.

Ada Arvino. Di kamarnya yang mungil. Di bawah selimut putih gading bertotol-totol

cokelat, yang biasanya sering kuledek karena persis jerawat. Arvino duduk menyandar.

Kepalanya menunduk merasa bersalah, wajahnya tampak menyesal. Dia membiarkan lima

belas detik pertama tanpa apa pun. Dia menunduk. Menunduk. Melirik ke kamera, tetapi lalu

menurunkan pandang lagi karena merasa bersalah.

Detik keenam belas Arvino bicara. “Maaf,” katanya.

Lalu, ada lima detik lain yang sunyi. Arvino mulai menunjukkan wajah memelas seperti

anak anjing. Biasanya, aku luluh melihat ekspresinya yang seperti ini. Sekarang pun, aku luluh

lagi. Namun aku menolak menyerah. Aku akan tetap mengabaikannya.

“Maaf, Ayank. Maaf. Maafin aku,” katanya, pada detik kedua puluh tujuh dan seterusnya.

“Maafin aku.” Lalu bahunya berguncang dan dia benar-benar menyesal.

Video itu berakhir pada detik keempat puluh tiga.

Kuputuskan untuk kulupakan dan berlanjut mandi saja. Aku harus pergi kuliah pagi ini.

Aku tidak boleh terlambat.

Namun, aku tahu, aku dan Arvino tidak akan bertengkar lebih lama dibandingkan

microwave memanaskan makaroni panggang. Baru dua belas jam sejak terakhir kali kami

beradu argumen, dan jujur saja, ini rekor baru yang berhasil kami capai.

Biasanya, jika aku dan Arvino bertengkar, aku akan memohon-mohon kepadanya dalam

empat puluh menit. Kalau aku yang salah, aku yang meminta maaf. Kalau Arvino yang salah,

aku juga yang meminta maaf. Entahlah, kami sudah terlalu nyaman dengan sistem seperti itu.

Arvino nyaman diperlakukan bak Ratu Elizabeth, di mana siapa pun yang melakuan kesalahan,

semua meminta maaf kepada ratu. Dan aku, karena terlalu mencintai Arvino, rela meminta

maaf sekali pun itu bukan salahku.

Kali ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan kami, aku membiarkan diriku

tidak meminta maaf setelah lebih dari satu jam pertengkaran.

Sudahlah, lupakan.

Memasuki makan siang, aku sudah pulang ke kosan dan menenggelamkan diriku dalam

game online. Inginnya aku meminta maaf kepada Arvino dan mengembalikan romansa kami ke

manja-manjaan seperti biasa. Namun sekali lagi, tekadku sedang kuat. Aku ingin mengulur

waktu maafku.

Sekitar pukul dua siang, pintu kamarku diketuk. Aku menoleh dan bertanya, “Siapa?”

Yang mengetuk di luar tidak menjawab siapa namanya. Dia malah berkata, “Open.” Dan

aku tahu itu Arvino.

Karena aku bukan manusia yang kekanak-kanakan, kubiarkan Arvino masuk ke dalam

kamarku. Dia berwajah sama seperti dalam video. Menunduk. Memelas. Malu. Merasa

bersalah. Berharap aku mau memaafkan dia. Arvino duduk di atas ranjang, memilin-milin ujung

bajunya, dan sesekali melirikku, memintakuuntuk bicara duluan.

Namun aku tidak bicara duluan. Jadi, “Maaf,” katanya, memulai pembicaraan.

Aku membiarkan dua menit dalam kamar itu sunyi tanpa apa pun. Hanya diisi

kecanggungan dan pelasan minta maaf. Sampai akhirnya aku berkata, “Oke.”

“Maaf, Yank,” ungkap Arvino lagi.

“Iya. You don’t need to, actually. Aku udah maafin kamu satu detik setelah kita

berargumen.”

“Tapi kamu nggak ngebales apa pun pesan dari aku.”

Aku tertawa kecil. “Iya, kalau gitu aku yang minta maaf soal itu. Aku pengen Ayanknya

punya waktu aja buat merenungkan diri. Tapi aku udah maafin kamu sejak awal. Selalu maafin

kamu, atas apa pun yang kamu lakukan.”

Arvino mendekatiku. Memelukku. Dan bermanja-manja meminta maaf.

“Maaf,” bisik Arvino sekali lagi.

“Iya, sayang.” Kukecup pipinya. “But please, next time, appreciate yourself.”

“Iyaaa...,” dengungnya. “Iya, maaf.”

“You are beautiful in my eyes. So please, jangan benci sesuatu yang sebenarnya aku

cintai. Oke?”

Jadi begini, semalam kami bertengkar gara-gara aku menggodanya. Kubilang, “lebar”

pada salah satu foto terbarunya di Instagram. Dan Arvino marah. Dia tersinggung karena aku

secara tidak langsung mengatainya gendut. Yah, secara teknis memang begitu. Namun aku

kan hanya menggodanya. Kemudian Arvino marah, beradu argumen denganku, dan

menyatakan opininya secara jelas supaya aku tidak mencandainya untuk sesuatu yang

menyerempet insekuritasnya.

Kemudian, aku mulai balas memarahi. Karena aku tidak suka ketika dia membenci

bentuk tubuhnya. Sudah kukatakan berkali-kali kepadanya, bahwa aku mencintainya atas

bentuk tubuhnya itu juga. Apa pun itu bentuknya.

“Tapi society hates this kind of body,” kata dia membela.

“Well that’s society. And I’m not society. Who do you listen to, Vino? Is it me, someone

who is obviously in love with you? Or is it society, who expect you to be what they thought is

perfect?”

Arvino menunduk.

“What I though is perfect, adalah ketika kamu menerima diri kamu sendiri. Ketika kamu

membuka ruang kecil insekuritas dalam hati kamu itu, lalu mulai kamu isi dengan pemahaman

bahwa, di sini, aku kekasihmu, melihatmu sebagai seseorang, bukan sebagai sesosok jasad

bernyawa.”

Arvino memelukku lebih erat. Sangat-sangat menyesal. “Maaf,” katanya terakhir kali.

Aku tersenyum dan memberikan argumen terakhir. “Aku akan selalu maafkan sebelum

kamu minta maaf. So, Ayank, please open yourself to a healthier mind. You are healthy. And

you are beautiful.” Kukecup bibirnya. “Open.”

-Moemoe Rizal-
191115
Jakarta

A Rock

Over the years I've been a rock. There are many sides on my rock. There are sparkling side of my rock, but there's also some hideous part you don't wanna see.

My sparkling academic achievement, I always went to the best school in town you name it. I went to the medical school of my dream, graduate on time with almost cum laude. I also got a scholarship for a student exchange in Europe. Amazing experience. Then I got a job in Jakarta as a flying doctor, traveling to many places, saving lives, got paid really well.

My love life sucks. I had one puppy love during high school. Nothing during my university years (maybe I was too busy). But, thank God I had someone right now. I don't really know where it leads us, but we'll see.

My friends. I have few good friends during high school, which we still keep in touch until now. They're the best, our days in high school were the best days. Our friendship continues during our college years, we spent those lonely Saturday night together, sharing stories, a cup of tea, and discounted desert after 9 pm. Sometimes we spent hours on the phone talking about anything. And after college, we still visit each other, having a Sunday brunch or just a quick meeting on the lunch break.

My depression. I don't know how it starts, but someday I just don't wanna wake up and get out of my room. Maybe I have to pay the price for my sparkling side. There are days when I don't even brush my teeth or shower. On those days I didn't have any inspiration, I caught up too deeply in my routine life and forget there are more things in the world to see. So, sometimes I need to slow down a little, take a deep breath, do yoga, or even smell a flower. Dancing keeps me sane as I release my dark side with it. I slowly rise and fight against my depression. And I'm trying not to be ashamed of it. Cause I've been a rock.

-Indra Sahril-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting

Wednesday, November 25, 2015

Looking at Your Back

There you are again, in the same seat every week, as I sit in the corner of this pub. Each time I've seen you, you sit alone. Each week has gone by without a chance to see your face. What I could see was your back, broad shoulders and big biceps surrounded by the cuffs of your short-sleeve shirt. You made me curious, but I didn't have the guts to get up and go to your table, to ask your name, or to buy you a drink. However, you have succeeded in making me come here every week. Just to see your back. 

One night, I brought my date here. It was a good night. Nonetheless, I kept glancing at your back and of course he finally realised why I'd brought him to this pub, and left right away. 

My best friend told me that I should make the first move. Open your heart and have courage. Take a chance. But I never listened to his advice. 

Tonight I finally hear my conscience telling me to get my ass up and go over to your table. As I'm walking towards you, I lose control of my body. Just a few more steps to your table, I turn and go back to my corner. Sometime later I realise what happened. I'm too afraid to see your face. What if you're nothing like I've imagined? What if my perfect image is shattered by the reality of you? Call me shallow, but I think it's enough for me to see you from behind. Your perfectly broad shouldered back, which I can only look at and admire. Just like this. Me and your back.

-Mikael Setiawan-
121115
Cafe Halaman

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting 

Risa

"Risa!"

Aku membereskan tumpukan kertas di mejaku. Beberapa naskah permukaannya sudah jadi sarang debu. Bahkan ada yang belum kusentuh selama beberapa minggu, padahal ...

"RISA!"

"Ya!" Buru-buru aku melangkah ke ruangan manajerku. Melihat wajahnya sekilas saja aku sudah tahu kalau ada yang tidak beres. Dahinya berkerut, alisnya bertemu. Tangannya menggenggam dummy buku cerita bergambar tokoh dunia yang kuletakkan di mejanya tadi pagi. Helen Keller adalah tokoh ...

"Kenapa ilustrasinya begini?" tanya Pak Heru dengan nada meninggi. Kini dummy itu dia sodorkan kepadaku, terbuka pada bagian di mana seluruh halamannya hitam. Tidak ada gambar. Sekilas seperti tidak ada tulisan. Setelah aku dummy berpindah ke tanganku, Pak Heru membuang mukanya.

"Ee, Pak ...." Aku tergagap, menghadap punggung Pak Heru. "Helen Keller kan buta dan tuli. Ilustrasi ini menggambarkan sebuah dunia dari sudut pandang ...."

"Pemborosan," potong Pak Heru tidak sabar. "Kok kamu nggak tanya saya sih?"

"Menurut saya ...."

Bukan pemborosan karena pada halaman itu sesungguhnya ada narasi tulisan, tapi dalam huruf-huruf timbul. Anak-anak bisa membaca dengan merabanya.

Rangkaian kata itulah yang ingin kuucapkan. Namun, lidahku berhenti bergerak setelah kata 'saya'.

Pak Heru lantas menarik napas panjang. Dia menggelengkan kepalanya, seperti memaklumi anak usia lima tahun yang masih juga membasahi kasurnya. "Sekarang kamu revisi narasi dan ilustrasinya. Pakai ilustrator yang bisa kerja ngebut. Ingat buku ini mesti masuk percetakan dalam waktu dua hari," katanya.

Ketika beranjak keluar, aku mendengar Pak Heru menggumam, "Saya heran, kamu sudah lama kerja di sini, tapi masih belum juga mengerti soal-soal seperti ini." Kata-kata itu serasa menusuk punggungku.

Saat kembali menghadapi meja, perasaanku bercampur aduk. Aku benci Pak Heru. Dia seolah tidak mau tahu. Dia sering bilang seharusnya aku lebih inisiatif, tapi inilah yang terjadi ketika apa yang kukerjakan tidak sesuai keinginannya.

Dulu ketika pertama bekerja di sini, aku senang karena mendapat sebuah meja kerja yang luas. Kupikir ada banyak hal yang bisa kukerjakan di atasnya. Namun pada akhirnya setiap permukaan kosong malah jadi tempat menumpuknya pekerjaan yang tertunda.


Dan aku khawatir, setiap kata pembelaan, setiap ungkapan sakit hati yang selalu kutelan, semua menumpuknya di punggung. Karena saat ini, punggungku sakit sekali.

-Andika Budiman-
121115
Cafe Halaman

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Punggung

“Oi. Apa tantangan hari ini?”

“You decide.”

“Yakin, nih?”

Dia ngangguk.

Sambil ngangkat dagu, belagak mau ngasih tantangan maut, gue mulai muter otak. Jelas, tantangannya mesti bisa gue menangin, tapi doi masih bisa bersaing kompetitif. Biar adil dong, Bro. Biar nggak berat sebelah. Gue Cuma butuh waktu sepuluh detik buat meletusin ide, “Nyelamatin anak kucing sebanyak-banyaknya!”

Dia tercengang kaget. Sambil ketawa. “What? What kind of challenge is that?”

“Yaaa… challenge is kind is that,” jawab gue, sengaja harus ngaco bahasa Inggrisnya, biar anti-mainstream.

“How does it work?” Dia mulai ngangkat satu alis. Biasanya gue suka kesengsem kalo mukanya mulai sok-sok nantang kayak begitu. Seksi aja Bro ngelihatnya.

“Yang menang challenge, yang paling banyak nyelamatin anak kucing hari ini.”

“How do we know that we really help a cat?”

“Yaaa… by photo-photo, selfie-selfie, before after and so on and so on.”

Dia ketawa geli ngedenger gue. “So, before we really help these kittens, we have to make sure that we take a picture of them, then help, then take a picture again?”

“Iya. So, so lah, pokoknya. Like that, like that.”

Dia geleng-geleng kepala, masih sambil ketawa geli. “Okay. Challenge accepted.”

Jadi gini, Bro. Gue, ama si dia ini nih, setiap hari punya satu tantangan yang mesti diselesain sebelum jam tujuh malem. Iseng-iseng aja. Kayak anak alay, kagak ada kerjaan. Tapi lumayan, silaturahmi gue makin terasah ama ni orang, jadi niat gue buat pedekate juga lancar jaya 86. Kadang tantangannya tuh siapa yang paling banyak makan daun singkong di nasi padang, siapa yang paling cepet nyampe ke kampus, siapa yang paling murah naik angkot, atau kemaren tantangannya siapa yang paling banyak dapetin kacang ijo pake duit lima ribu perak.

Setelah tantangan selesai, pemenangnya boleh ngelakuin apa pun ke si yang kalah. Sejauh ini doi yang paling sering menang. Atau dalam kamus gue, guenya yang banyak ngalah. Hihi. Biar dia makin sayang aja ama gue, Bro. Biasanya, permintaan dia suka aneh-aneh kalo gue yang kalah. Suruh bersihin ban mobil tetangga, lah. Suruh ngembaliin buah mangga ke pohonnya, lah. Suruh jagain lilin di tukang sate madura, lah—padahal nggak ada yang berubah jadi babi, tapi tetep aja gue suruh jagain. Tiga hari yang lalu pas gue kalah, gue disuruh kenalan ama kuntilanak, terus foto bareng.

“So, what’s the prize for today?” tanya dia.

“Kamu dulu,” kata gue.

“Okay. If I win this challenge, I want you to clean my closet. I’ve been dying to look for a spare time in arranging all those messy stuff. Argh.”

“Siaaappp!” jawab gue.

“How about you?”

“Gue? Gue pengen peluk lo.”

“Hug me? Why?”

Gue ngangkat bahu. “Pengen aja. Entar gue kasih tahu alasannya.”

Lalu, berpisahlah gue ama dia. Dia pergi ke kampus, gue pergi ke studio musik gue. Kagak ada jadwal latihan atau apa sih. Jadwal gue hari ini ya menangin challenge yang gue buat sendiri. Jadi, gue datang ke gang-gang, gue set biar kucing-kucing yang gue temuin berada dalam bahaya. Udah gitu gue foto, gue selamatin, gue foto lagi. Kan lumayan. Selain bikin ini kucing bisa latihan jadi fotomodel, gue juga belajar fotografi.

Kucing pertama yang gue temuin warnanya oranye-putih, agak kurus dan matanya ijo. Tapi pas gue samperin, dianya kabur. Sampe ngelompat ke halaman rumah orang. Gue kejer dia sepanjang lima gang di RT sebelah, kagak berhasil juga. Pantesan suka ada istilah kucing garong, ya. Abisnya mereka kalo kabur ahli banget. Padahal nggak akan gue rampok atau perkosa juga. Nggak ngerti gue ini kucing barusan kenapa somse amat.

Kucing kedua punyanya Adis, namanya Poxi. Karena gue udah tanggung nyasar ke gang RT sebelah, ya udah gue mampir di sana sebentar. Gue fotoin kucing itu kayak yang mau jatuh dari jemuran kosannya Adis, lalu gue tolongin, dan gue foto lagi pas kucingnya udah selamet. Dibantuin Adis malah. Sampe 35 take gambar, padahal yang diambil Cuma satu.

Lama-lama ini jadi kayak yang nggak meyakinkan. Abisnya si Poxi kagak pernah main ke atas jemuran. Kok kayaknya idiot aja dia mendadak berubah kepribadian dan muncul di atas sana sampe-sampe gue mesti nolongin segala.

Tapi gue move on, Bro. Gue cari kucing lain.

Kucing ketiga kucing liar lagi. Yang lebih ramah-tamah, tenggang rasa, rajin menabung, dan apa pun yang jadi judul buku paket PPKn. Gue kondisiin dia ada di atas pohon jambu deket rumahnya Kades. Gue fotoin. Lalu, gue turunin lagi, dan gue fotoin lagi karena gue berhasil bawa doi ke atas tanah. Fotonya sih meyakinkan. Apalagi gambarnya agak-agak blur, jadi kesannya kayak yang bener-bener darurat gitu.

Cuman bahlulnya, begitu selesai photoshoot, ini kucing langsung lompat naik ke atas pohon jambu, dan bobo di sana. Sial. Kata Pak Kades, emang di situ rumahnya.

Udahlah, ya. Si dia nggak perlu tahu kalo kucingnya nggak pernah perlu diselamatin dari atas pohon.

Kucing berikutnya? Banyak, Bro. Sampe jam tujuh malem gue udah syuting ama sepuluh kucing. Nyaris di banyak gang dan kampung-kampung. Ada yang ceritanya kejebak di gorong-gorong, ada yang nyaris digoreng sama tukang bala-bala, ada yang nyaris ditendang sama tukang nasi padang, ada yang lagi dikejar anjing chihuahua, ada yang nyangkut di jendela, sampe ada yang lagi nyeberang gue potoin aja… padahal tuh kucing udah cukup dewasa dan berhati-hati dalam menyeberang. Cuma tetep aja pas di seberang gue ajak foto bareng. Ceritanya, gue yang bantu dia nyeberang.

Jam tujuh malem, gue ketemu lagi ma dia. Lokasinya di atap rumah gue. Gue ajak ke sana. Buat lihat bintang-bintang. Biar romantis. Biar kayak pujangga.

“How was your day?” tanyanya.

“Penuh kebaikan,” jawab gue, berusaha terdengar bijak. “So your day how was?”

Dia ketawa. Selalu ketawa ngedenger bahasa Inggris gue. “It was fun. But I didn’t get many pictures of me helping cats in emergency.”

“Coba mana fotonya?”

Dia ngasih tunjuk tiga foto doang. Fotonya sih believable, kayak bener-bener emang butuh bantuan tuh kucing. Ada yang kejepit di pagar. Ada yang masuk ke sumur. Dan ada yang lagi nyari anak-anaknya. Gue sampai nangis Bro lihatnya.

“Your turn,” kata dia.

Ya udah, gue tunjukin semua foto yang gue dapet. Dia ketawa. Jumlahnya sih banyak. Dan kayaknya dia ngeh juga kalo gue malsuin nyaris semuanya kayak anggota DPR cuci uang hasil korupsi mereka.
“Looks like you win, tonight. Congratulations.”

Gue lemparin cengiran lebar.

Dia lalu ngerentangin tangannya, membiarkan tubuh dia buat gue peluk. “So, come here. Hug me.”

Dengan senyum yang lebih romantis, gue berjalan muterin dia. Berjalan ke belakang dia. Lalu gue peluk dia dari belakang.

Dia heran. “You want to hug me from the back?”

“Yoyoy.”

“Why?”

“Gue pengen nyentuhin badan gue sama punggung lo.”

Dia ketawa. “And why is that?”

Giliran gue yang ketawa. “Meluk dari belakang gini tuh, ngerangkul badan lo dari punggung, ngebikin gue bisa ngelindungin lo lebih erat. Lebih waspada. Dan lebih aman.”

“That’s not even related.”

“Related, kok,” sanggah gue. “Lo lihat tangan gue sekarang? Tangan kan organ yang paling lincah dalam melindungi diri. Karena gue meluk dari punggung, tangan gue bisa terjulur ke depan, posisinya lebih deket sama hati lo. Lebih aman buat ngelindungin lo.”


Dia nggak ketawa. Tapi senyumnya yang tulus bisa gue rasain dari pipi kami yang akhirnya bertemu. Lalu, sambil berbisik, dia berkata, “You know what. I love today’s challenge. And I’m glad that you won the game.”

-Moemoe Rizal-
121115
Cafe Halaman

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Voted as Favorite Story of The Night

Punggung

Jika ada yang diberi pertanyaan, "Apa yang paling kau ingat tentang mantan kekasih terakhirmu?" mungkin mereka akan menjawab, "Hangatnya," "Senyumnya," "Wanginya," "Matanya," "Hidungnya," atau bahkan, "Ciumannya."

Dan aku akan menjawab, "Punggungnya."


Ah, mana bisa kulupakan kau dan punggungmu itu. Punggung yang sama sekali tidak kokoh sebenarnya, karena kau termasuk sangat kurus untuk ukuran pria seumuranmu. Tapi punggungmu itu, ya, yang kurus ceking itu, adalah punggung yang selama ini menentramkanku. Punggungmu itu selalu menyembunyikanku dari dinginnya angin malam kota Bandung sehabis hujan. Kau tentu ingat betapa erat pelukanku di atas motor tuamu. Dan punggungmu selalu bisa kujadikan sandaran dan penampung air mata. Sudah kubilang aku berjanji tidak pernah menangis di depanmu kan? Aku menepatinya. Aku sering menangis diam-diam di belakangmu. Aku tau bahwa kau tau itu. Tapi aku tak peduli selama kau tetap pura-pura tak peduli.


Sampai kini aku masih bertanya pada semesta, mengapa harus punggung kurus ceking favoritku itu menjadi hal yang terakhir yang kulihat darimu di lorong samping laboratorium setelah kau berkata lirih, "Kita sampai di sini saja ya Dik, aku mau kembali pada tunanganku di Surabaya."

-Rahadini Windia-
121115
Malang

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Our Plushies

Let's go back to the first time we met. It was the eye contact, although we quickly turned our heads away, that I remember. I still remember how you bashfully tried to look at me when I didn't look at you. I didn't even get your name . We always went to that coffee shop on the same day of the week, at the same time, and we sat opposite each other. I guess we both enjoyed our non-conversational meetings. I usually arrived first and would anxiously wait for you. But one day when I was running late, I finally got your name. The barista called your order while I was waiting in line. That same day I finally had enough courage to go up to your table and ask you for a date.


Our first date was bizarre and disastrous. We missed our reservation at the restaurant, so we decided to eat at a diner instead. How weird was it when the waitress accidentally knocked over your drink and soaked your shirt? You went to the toilet but all the hand dryers were broken. So you sat back down and continued eating with your wet shirt. We cancelled going to the cinema because I didn't want you to get sick. We couldn't find a taxi so we had to walk home. None of that put us off. At least our later dates went well.


Our first-month anniversary brought us a new tradition. You gave me a teddy bear. Soon our history was filled with stuffed animals. A panda for Valentine’s day. A reindeer for Christmas. A dog for our one-year-anniversary. A giraffe for your birthday. A penguin when we decided to move in together. A lion for my birthday. An orca whale for your promotion at the office. And an elephant when I asked you to marry me.


So now here, in front of God, people that we love and love us, and all our stuffed animals, I promise to bring you joy, I promise to be there for you to cuddle, I promise to lend you my shoulder to cry on, just like our plushie. So, I, John take you, Paul as my lawful husband, for better or worse, in sickness and health, till death do us part.  

-Mikael Setiawan-
221015
Cabe Garam

CS Bandung Writers' Club 4th Meeting

Voted as Favorite Story of The Night

Surat Kepada Kawan

Kawan,
Terima kasih untuk semua waktu yang kau sisihkan untukku.
Terima kasih untuk segala doa yang kau panjatkan atas namaku
Terima kasih untuk seluruh usaha yang kau perjuangkan untuk pertemanan kita

Kau yang ada ketika aku berada di langit ke tujuh saat ku jatuh cinta padanya
Kau yang ada di kala aku berhasil memenangkan hatinya
Kau yang ada sesaat aku ditinggalkannya

Aku masih ingat semua impian kita
Aku masih ingat semua resolusi kita
Aku masih ingat semua janji kita

Semua yang kita lafalkan keras-keras sembari menautkan jari-jari kelingking kita agar kita berusaha keras mencapai apa yang kita dambakan

Sebuah ritual yang menjadi tradisi kita setiap tanggal satu Januari

Ritual yang kita jadikan batu pijakan selama setahun berikutnya

Tahun di mana semuanya berubah

Kawan,
Maafkan aku untuk semua keacuhanku akan perasaanmu
Maafkan aku untuk segala cara yang kulakukan untuk mendapatkannya
Maafkan aku untuk seluruh niatku menggunakanmu demi kepentingan diri sendiri

Aku yang tahu bahwa kau menyukaiku tapi tak kuhiraukan
Aku yang tahu bahwa kau akan melakukan apapun untukku
Aku yang tahu bahwa kau terluka setiap saat kau melihatku dengannya

Kau selalu menyediakan bahumu untuk isak tangisku
Kau selalu meloncat kegirangan bersamaku saat aku bahagia
Kau selalu tersenyum walaupun dalam hati kau menjerit

Semua berubah saat kau memutuskan untuk bergabung dengan korps relawan di Timur Tengah

Tempat dimana terjadinya kejadian itu.

Kejadian yang menyebabkan kau pulang lebih cepat dari yang kau rencanakan.


Walaupun kita tetap bertemu di tanggal satu Januari, tak mungkin aku menautkan jari kelingkingku padamu. Bukan karena kau lelah menungguku, tapi karena kecelakaan itu membuatmu kehilangan jari kelingkingmu.

-Mikael Setiawan-
051115
Giggle Box

CS Bandung Writers' Club 6th Meeting