Saturday, November 21, 2015

Kelingking

“Halo, apa kabar?”
Dia tidak menjawab. Wajah pucatnya membalas sapaanku.
“Regina? Lebih enakan sekarang?”
Kali ini, dia menoleh. Senyumnya mengembang terpaksa. Aku menaruh bunga favoritnya di atas meja. Di sebelah boneka usang yang selalu dia peluk selama 28 tahun terakhir, setiap malam. Gelas kaca berisi air putih tinggal setengah. Artinya, dia sudah meminum obatnya.
“Aku udah lakuin semua yang kamu minta. Tadi pagi aku pergi ke rumah teman kamu, Borin. Yang rumahnya di Leuwigajah itu. Jauh. Haha. Dianya juga nyaris berangkat kerja. Kalo aku telat dikit aja, mungkin aku nggak akan ketemu dia. Eh, dia tuh pake jilbab ya kalo kerja? Terakhir kita ketemu dia kan, dia nggak pake kerudung gitu. Yang rambutnya sebahu itu, kan? Pangling aja aku pas lihat dia pake hijab.”
Regina masih mengembangkan senyum mendengar ceritaku. Dia mengedip, mengganti anggukan yang berat dia lakukan. Sebisa mungkin aku menahan tangis.
“Salam dari Borin, katanya. Nanti dia main ke sini hari Sabtu. Mau dia bawain cheesecake yang dikasih buah naga. Cheesecake kesukaan kamu, Regina. Hahaha….” Aku duduk di atas ranjang, tepat di sampingnya. Kubelai lengannya yang sekarang kurus. Kukirim doa-doa terbaik seraya aku menyusurkan jemariku di permukaannya. “Nanti aku mau coba cheesecake-nya. Boleh?”
Regina mengangguk menggunakan kedipan lagi.
“Nah, terus habis nganterin Borin ke kantornya dia, aku langsung pergi nyamperin Sania. Dia pengen banget ketemu kamu, tapi tahulah dia pegawai bank. Udah gitu rumah kamu jauh dari banknya dia. Begitu kerjaan kantor beres, harus ketemu macet. Maaf banget belum bisa jenguk. Tadi aja aku ngambil antrian CS dong, biar bisa ngobrol ama dia. Hahaha….”
Regina tertawa menggunakan kedipan lagi.
Kugenggam tangannya yang kurus dengan lembut. Kututup satu sudut selimut yang tersingkap. Selama beberapa saat, aku hanya menatapnya penuh doa. Menunggu dua atau tiga detik sebelum aku melanjutkan cerita.
“Dan aku siangnya ketemu Jay,” lanjutku. “Iya. Mantan kamu. Dia cemas sebenernya, cuma nggak bisa jenguk kamu karena pacarnya yang sekarang posesif abis. Kamu tahulah, apa pun yang berhubungan sama kamu, langsung pacarnya blokir. Aku aja ketemunya sebentar, cuma ngasihin barang-barang dia yang masih ada di kamu. Semuanya udah aku kumpulin kemarin. Kecuali topi merah yang kamu bilang itu, aku nggak nemu. Paling entar kalo aku ada waktu luang, aku cari lagi dan kasihin ke Jay. Salam dari Jay juga. Cepet sembuh katanya.”
Regina paham, menggunakan kedipan lagi. Kali ini senyumnya tidak mengembang. Mungkin karena kisah tentang Jay menyimpan duri yang menyakitkan dalam hatinya.
Aku mulai mengusap keningnya, menyingkirkan sejumput rambut yang jatuh menghalangi pandangannya. Regina terasa dingin. Bibirnya memutih. Selama dua atau tiga menit aku memberi jeda atas kisahku. Kutatap Regina dan kutemani dalam diam. Kugenggam tangannya, kuamati dadanya yang bergerak dalam napas, kutatap matanya yang menatap kosong padaku.
Kadang tatapannya menajam. Kadang tatapannya memohon pertolongan. Kadang tatapannya ingin mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
“Habis ketemu Jay, sebelum aku nyampe ke sini, aku juga ke rumah ibuku. Aku salamin ke Ibu. Aku ceritain soal kamu. Sesuai yang kamu minta kemaren, Regina. Ibu doain, semoga cepet sembuh. Semoga bisa cepetan main lagi ke rumah Ibu. Terus, oh, bentar.” Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil cookies cokelat buatan Ibu, yang kebetulan sore kemarin dibuat khusus untuk Regina. Ibu tahu Regina suka cookies. Pertama kali Regina main ke rumahku, dia menghabiskan semua cookies cokelat dalam toples. Kami semua tertawa dan ibuku tidak pernah melupakannya. “Ini. Dari Ibu,” kataku, meletakkan cookies itu di atas meja, di sebelah bunga favoritnya. “Dikasih doa-doa. Supaya cepet sembuh.”
Regina tertawa, menggunakan kedipannya lagi.
Aku kembali duduk di sampingnya. Memberi jeda dua belas hingga tiga belas menit dalam ceritaku. Kutatap Regina lagi. Setiap senti tubuhnya. Setiap detak napasnya. Setiap kedipannya yang rapuh. Menit kedelapan, aku memeluknya sejenak, mencium aroma conditioner yang khas dari rambutnya. Kukecup keningnya dan kembali kubisikkan harapanku di sana.
Lalu, aku membaringkan tubuhku di samping Regina. Kurangkul dia. Kuajak menatap langit-langit kamar seolah menatap bintang-bintang. Kuusap bahunya, seolah menenangkan anak kecil dari tangis ketakutannya. Kubiarkan Regina bernapas di leherku, seolah menjadikan diriku benteng terkuatnya menghadapi musuh.
Yah, aku mau kok menjadi bentengnya. Menjadi seseorang yang berkesempatan melindunginya.
Setelah kurasa cukup untuk melanjutkan cerita, aku bilang kepadanya, “Aku mau ngasih kamu satu rahasia paling rahasia sejagad raya. Kamu mau dengar?”
Regina mendongakkan kepalanya menatapku. Senyumnya mengembang lebih lebar. Aku tahu, Regina senang rahasia. Regina senang menguak apa yang hakikatnya tersembunyi.
“Rahasianya sepele. Tapi ini rahasia. Sampai sekarang tidak ada yang tahu soal ini. Mau itu Borin, mau itu Sania, mau itu Jay, mau itu ibuku. Atau semua teman-temanku. Paling Cuma Tuhan yang tahu. Tapi kan Tuhan selalu curang. Tuhan selalu tahu apa yang kulakukan. Bahkan tahu semua rahasia-rahasia jagad raya.”
Dalam rintihnya yang menyakitkan, kudengar Regina berkata, “Apa?”
Suaranya seperti kayu lapuk yang nyaris patah. Berderak-derak dan membuat ngilu.
“Rahasianya….” Kukecup keningnya sebelum menjawab. “Aku mencintaimu, Regina.”
Dia memelukku lebih erat, melawan rasa sakit atas tubuhnya yang lemah. Kurasakan dia membenamkan wajahnya di dadaku, merebahkan jiwanya dalam perlindunganku. Lalu, sangat-sangat-sangat jelas… kurasakan bibirnya tersungging. Melukis senyum. Aku bisa merasakannya.
“Aku mencintaimu, Regina,” ulangku. “Dua jam lagi kamu akan melakukan operasi besar atas tubuhmu. Dan aku berjanji aku akan optimis menghadapi operasi itu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap mengirimkan kabar baik kepada teman-temanmu. Kepada Jay, bahkan kepada ibuku. Aku berjanji, rahasia itu akan tetap menjadi rahasia di mana hanya kamu dan Tuhan yang tahu.
“Aku berjanji, aku akan mati-matian menjaga rahasia itu tetap seperti itu. Karena apa pun yang terjadi, kamu sudah melukis satu warna baru dalam hidupku. Warna yang tidak teridentifikasi enam belas juta warna layar ponsel. Warna itu kamu. Hanya kamu yang punya.” Kukecup keningnya sekali lagi. “Sekarang, Regina, kamu mau berjanji nggak, bahwa kamu bakal berjuang menghadapi operasimu?”
Regina mengedip, menjawab iya. Lalu, dia mengangkat tangan kirinya. Mengacungkan jari paling lemah dan mungil.
Kelingkingnya.
Dengan sabar mata berair, kuacungkan kelingkingku dan kukaitkan di kelingkingnya.

Terima kasih, Regina. Aku tahu kamu akan selalu berjuang. 

051115
Giggle Box
CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

No comments:

Post a Comment